Ngga terasa, my son udah mulai gede. minggu lalu mendadak minta dibeliin sepatu kets yg mirip punya papa. Katanya supaya kalau pergi-pergi bisa pake sepatu kets kaya papa. Biasanya Jo kalau pergi memang denga sandal sepatu nya.
Setelah saya perhatikan, ternyata hal yang sudah lama ngga saya perhatikan....ngga sempat memperhatikan tepatnya. Banyak hal yang sudah copy paste dari saya. Ngga nyadar kalau setiap kali atau setiap malam saya buku laptop, Jo selalu ikut-ikutan juga dengan internet nya yang pasti buka Lego.com, download cataloque nya lego, nulis daftar keinginanya untuk punya seri-seri lego lainnya. Dengan pertanyaan-pertanyaannya yang sering membuat tersenyum karena lucu dan polos. Walaupun terkadang banyak pertanyaan susah yang bikin jengkel juga, karena kasian dia ngga dapat jawaban dari keinginan tahuannya.
Ternyata banyak hal yang missing dan baru saya sadari dari hal-hal sederhana. Tidak perlu banyak bicara, tetapi ada disamping atau hadir sudah memuaskan dirinya. Mendengar dengan hati.
Entri Populer
-
Film bagus banget, menyentuh banget. Cerita seseorang yang mendedikasi kan hidupnya....apa ya tepatnya, seseorang yang menyerahkan hidupny...
-
Sebulan kurang satu hari Januari 2011 berlalu, selanjutnya harus lebih sukses. Judul manies di salah satu halaman Kompas mengenai resolusi ...
Sabtu, 24 Juli 2010
Mendengar dengan hati (2)
Jum'at pagi yang cerah, walaupun jadwal keliatannya padat banget, saya menyempatkan diri untuk interview dengan seorang wanita pencari kerja. Masih muda, penampilan biasa aja, awalnya tampak tidak percaya diri dan tidak yakin akan kemampuan yang dimilikinya. sepintas saya pikir,ini buang-buang waktu saya aja.
Ternyata, dia baru aja menikah, dan yang tadinya memutuskan dan diputuskan oleh suaminya untuk tinggal aja di rumah, akhirnya berpikir untuk kembali kerja. Tampaknya bukan semata-mata kebutuhan ekonomi, tapi lebih dari itu butuh eksistensi untuk memanfaatkan apa yang dia punya buat bekerja. Upah hasil kerja, menurut pengakuannya, menjadi uangnya sendiri, karena suaminya sudah memenuhi kebutuhannya. Jadi katanya dia tetap menjadi tulang punggung keluarga. sebagai sulung dari 2 bersaudara, harus tetap menjadi andalan "keluarga" jadi setiap saat harus siap membantu orangtua-nya dengan kebutuhan mereka. Suaatu pemikiran yang asyik dan mulia juga, paling tidak, ngga mau merepotkan suami dengan kebutuhan tambahan untuk orangtuanya sekaligus bentuk dari erima kasih kepada orang tua.
Lepas dari itu, ada hal menarik lainnya, katanya pekerjaan dan bekerja di Jakarta selalu "under pressure". Jadi pada saat weekend sabtu minggu harus benar-benar libur supaya senin sampai jum'at udah siap lagi untuk mendapatkan pressure....oh ya. Mengapa banyak orang yang seperti itu ya? apa benar sedemikian berat bekerja sepanjang minggu, sehingga perlu rutin refreshing at all. Quality of Life? gimana yang kerja dari berangkat jam 6 pulang jam 10 malam? kalau kerjanya main main aja sehingga perlu menghabiskan waktu demikian lama untuk menyelesaikan pekerjaan bisa aja. Tapi yang menarik adalah sang wanita tadi harus menghabiskan weekend nya dengan jalan-jalan kemana aja, sekedar menikmati hal-hal yang tidak rutin, menghibur udara segar di luar jakarta, dan menarik juga, katanya ga perlu jauh-jauh, naik kereta ke bogor, makan di stasiun dan kembali ke jakarta sudah refreshing tersendiri. Menarik juga ya. Mancing di kolam ikan di pinggiran jakarta, good idea juga, atau jalan-jalan ke tempat yang selama ini jarang dilalui utk nambah pengetahuan wilayah...kalau salesman yang kerja dilapangan kayanya perlu juga.
Idea menarik dari sebuah wawancara dengan seseorang yang ternyata secara sederhana bisa menikmati hidup "quality of life" yang jauh-jauh lebih baik dari seseorang seperti saya. Inspiring....
Ternyata, dia baru aja menikah, dan yang tadinya memutuskan dan diputuskan oleh suaminya untuk tinggal aja di rumah, akhirnya berpikir untuk kembali kerja. Tampaknya bukan semata-mata kebutuhan ekonomi, tapi lebih dari itu butuh eksistensi untuk memanfaatkan apa yang dia punya buat bekerja. Upah hasil kerja, menurut pengakuannya, menjadi uangnya sendiri, karena suaminya sudah memenuhi kebutuhannya. Jadi katanya dia tetap menjadi tulang punggung keluarga. sebagai sulung dari 2 bersaudara, harus tetap menjadi andalan "keluarga" jadi setiap saat harus siap membantu orangtua-nya dengan kebutuhan mereka. Suaatu pemikiran yang asyik dan mulia juga, paling tidak, ngga mau merepotkan suami dengan kebutuhan tambahan untuk orangtuanya sekaligus bentuk dari erima kasih kepada orang tua.
Lepas dari itu, ada hal menarik lainnya, katanya pekerjaan dan bekerja di Jakarta selalu "under pressure". Jadi pada saat weekend sabtu minggu harus benar-benar libur supaya senin sampai jum'at udah siap lagi untuk mendapatkan pressure....oh ya. Mengapa banyak orang yang seperti itu ya? apa benar sedemikian berat bekerja sepanjang minggu, sehingga perlu rutin refreshing at all. Quality of Life? gimana yang kerja dari berangkat jam 6 pulang jam 10 malam? kalau kerjanya main main aja sehingga perlu menghabiskan waktu demikian lama untuk menyelesaikan pekerjaan bisa aja. Tapi yang menarik adalah sang wanita tadi harus menghabiskan weekend nya dengan jalan-jalan kemana aja, sekedar menikmati hal-hal yang tidak rutin, menghibur udara segar di luar jakarta, dan menarik juga, katanya ga perlu jauh-jauh, naik kereta ke bogor, makan di stasiun dan kembali ke jakarta sudah refreshing tersendiri. Menarik juga ya. Mancing di kolam ikan di pinggiran jakarta, good idea juga, atau jalan-jalan ke tempat yang selama ini jarang dilalui utk nambah pengetahuan wilayah...kalau salesman yang kerja dilapangan kayanya perlu juga.
Idea menarik dari sebuah wawancara dengan seseorang yang ternyata secara sederhana bisa menikmati hidup "quality of life" yang jauh-jauh lebih baik dari seseorang seperti saya. Inspiring....
Roti Bakar Mandiri
Sabtu pagi yang nyaman, cerah tapi tidak terlalu panas....menarik juga kalau jam segini melintas di toll Purbaleunyi arah Bandung ke Jakarta, mampir di rest area pertama dari Bandung. sambil menikmati roti bakar Mandiri, saya lupa km berapa, masih relative baru, bersih (ini yang paling penting), toilet juga bersih dan dikelola apik oleh outsourcing yang cukup ternama, balik lagi terpentin bersih, mudah-mudahan bukan karena cuma baru beberapa bulan, tetapi bisa dijaga seterusnya.
Sambil istirahat sehabis tik-tok Jakarta - Bandung - Jakarta untuk meeting, mampir ngopi sebentar, ech ada roti bakar yang menarik mata, karena tampilannya yang montok. Ada berbagai rasa mulai dari keju, coklat, strawberry sampai kornet isinya, dibakar di bakaran listrik menjadi tampak tidak terlalu gosong, empuk, tebal, hangat-hangat ditemani kopi instanst *sayangnya. duduk di bangku kayu lumayan sejuk di ruangannya yang terbuka bisa menghadap keluar melihat kesibukan orang mengisi bbm dan jalan toll. Masih asyik sejuk karena mungkin agak dekat dengan perkebunan teh walini.
Paling tidak ada pilihan yang menarik dari rest area yang biasanya makanannya ala kadarnya aja. Ada mie rebus instants juga *serve di cup juga sayangnya. ama minuman dingin lainnya.
cukup nyaman untuk mengganjal perut, yang mungkin ngga perlu isi yang mengenyangkan, ntar malahan jadi ngantuk nyetir.....
Sabtu, 10 Juli 2010
Mendengar dengan hati
Kalau mau diteruskan, mendengar dengan hati, menonton dengan hati, membaca dengan hati dan menjalankan dengan hati. Ya pasti nya mendengar memang pake kuping. Apa aja sich sebetulnya fakta-fakta itu? apa yang terjadi sebenar-benarnya, tanpa ada yang disembunyikan, tanpa ada yg dibohong'in tanpa ada yang direkayasa atau tanpa ada yang dipolitisir, dipelintir sedemikian rupa jadi berbeda. yaitu lah fakta. Jadi bukan soal benar atau salah, tetapi fakta yang terjadi yang harus diperhati'in supaya kita bisa menilai dengan hati. Hati yang bicara untuk memutuskan mana yang benar, mana yang tidak benar.
Kasus seru video porno atau mesum atau apa pun lah namanya, sang pelaku sich bisa bilang bukan atau menyangkal. walaupun akhirnya minta maaf ke publik. Awalnya kita dengar kita nonton, kalau kita nonton dan dengar dengan hati, kita udah bisa bikin kesimpulan sendiri. kalau sekarang minta maaf dan masih belum pengakuan, cobalah kita dengar dengan hati juga.....bisa buat kesimpulan sendiri.
So ketika seseorang teman atau siapapun, mengatakan A kemudian apalagi memastikan bahwa A yang pasti dilakukan untuk suatu yg bisa dikatakan etika, tetapi yang dilakukan adalah B, dan menjadi tidak benar menurut kita yang pernah denger omongannya. so cobalah dengar dengan hati....flasback pada saat mendengar pertama kali, apa kata hati kita? mungkin dalam hati berkata : ah masa sich? ooh hebat juga komitment nya? dlsb dll dech. sedikit meragukan atau memang setuju 100%? tanyakan hati, yang paling benar mana?
Kembali yg kita lihat fakta yang sebenarnya, ungkapkan atau lihatlah fakta yang terjadi. Lihatlah atau tontonlah dengan hati atau mendengar dengan hati. Tidak perlu menyalahkan atau membenarkan. Senyumlah...boleh sinis boleh tulus ....terserah.
Kasus seru video porno atau mesum atau apa pun lah namanya, sang pelaku sich bisa bilang bukan atau menyangkal. walaupun akhirnya minta maaf ke publik. Awalnya kita dengar kita nonton, kalau kita nonton dan dengar dengan hati, kita udah bisa bikin kesimpulan sendiri. kalau sekarang minta maaf dan masih belum pengakuan, cobalah kita dengar dengan hati juga.....bisa buat kesimpulan sendiri.
So ketika seseorang teman atau siapapun, mengatakan A kemudian apalagi memastikan bahwa A yang pasti dilakukan untuk suatu yg bisa dikatakan etika, tetapi yang dilakukan adalah B, dan menjadi tidak benar menurut kita yang pernah denger omongannya. so cobalah dengar dengan hati....flasback pada saat mendengar pertama kali, apa kata hati kita? mungkin dalam hati berkata : ah masa sich? ooh hebat juga komitment nya? dlsb dll dech. sedikit meragukan atau memang setuju 100%? tanyakan hati, yang paling benar mana?
Kembali yg kita lihat fakta yang sebenarnya, ungkapkan atau lihatlah fakta yang terjadi. Lihatlah atau tontonlah dengan hati atau mendengar dengan hati. Tidak perlu menyalahkan atau membenarkan. Senyumlah...boleh sinis boleh tulus ....terserah.
Langganan:
Postingan (Atom)